lululu


Rabu, 17 Desember 2014

Mahabharata

Sebutan Pandawa berasal dari sebuah kata dari bahasa Sansekera yang berarti “Anak Pandu”. Sebutan tersebut diberikan pada lima orang bersaudara yang adalah juga anak-anak dari Raja Pandu Dewanata dari Hastinapura. Disebutkan juga kalau kelima orang Pandawa itu merupakan titisan dari dewa-dewa tertentu yang memiliki keahliannya masing-masing.
Anak-anak Pandu yang lahir dari dua orang ibu yang berbeda, yaitu Dewi Kunti yang merupakan ibu dari Yudhistira, Bimasena dan arjuna, sementara Dewi Madri merupakan ibu dari si kembar Nakula dan Sadewa. Pada usianya yang masih anak-anak, para putra-putra Pandu ini kerap berselisih dengan saudara sepupu mereka, Kurawa. Perselisihan tersebut terjadi akibat hasutan dari paman Kurawa yang bernama Sangkuni yang dikenal memiliki lidah tajam.
Setelah Pandu dan Dewi Madri meninggal, Hastinapura dipegang oleh ayah Kurawa yang juga saudara dari Pandu yang bernama Destrarasta. Saat itulah Duryudana dibantu ke-99 adiknya memiliki keinginan untuk duduk sebagai raja Hastinapura dan bertekad menyingkirkan para Pandawa dengan cara apapun.
Sekarang mari kita berkenalan dengan para Pandawa anak Pandu yang merupakan tokoh protagonis dalam kisah epik Mahabharata ini.
1. PUNTADEWA ATAU YUDHISTIRA
Dalam serial Mahabharata yang ditayangkan oleh Star Plus India dan ditayang ulang oleh ANTV Indonesia, tokoh Yudhistira diperankan oleh Rohit Bharadwaj. Yudhistira terlahir dengan nama aslinya Puntadewa yang berarti memiliki derajat keluhuran yang setara dengan para dewa. Sedangkan sebutan/julukan lain Puntadewa atau Yudhistira adalah Ajatasaru, Bharata, Dharmawangsa, Kurumukhya, Kurupati, Pandawa, Partha, Gunatalikrama, dan Samiaji.
Yudhistira
Sosok Yudhistira dalam pewayangan
Puntadewa alias Yudhistira ini merupakan anak sulung dari Raja Pandu dan Dewi Kunti, namun bisa disebut juga merupakan anak kedua dari Kunti karena anak pertamanya yang bernama Karna diasuh oleh Adirata. Dalam kisah disebutkan bahwa Yudhistira merupakan titisan Dewa Yama/Dharma karena ulah Pandu yang salah sasaran sewaktu akan memanah seekor rusa sehingga menerima kutukan sebelum dia sempat bercinta dengan istrinya.
Pandu dikenal sebagai orang yang adil, jujur, sabar, relijius, percaya diri dan berani berspekulasi. Dalam perjalanan hidupnya Yudhistira hampir tidak memiliki musuh, karena memiliki sifat yang sangat bijaksana dan tidak pernah berdusta. Hal ini pula yang akhirnya dimanfaatkan oleh Sangkuni ketika merayunya untuk berjudi dadu, yang menyebabkan kekalahan besar di pihak Pandawa dan merubah kisah Mahabharata menjadi sebuah cerita yang menegangkan dan penuh konflik.
Keahlian Yudhistira adalah menggunakan tombak, sebagaimana diajarkan oleh Resi Druna (Dorna), dan dalam budaya Jawa, Yudhistira dikenal memiliki beberapa pusaka yaitu Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih.
Salah satu kebiasaan buruk dari Yudhistira adalah senang bermain dadu. Hal tersebut benar-benar telah dimanfaatkan dengan baik oleh Sangkuni dan Duryudana yang melalui kelicikan dan lidah tajamnya berhasil mempengaruhi Yudhistira untuk bermain dadu dengannya dan mempertaruhkan hartanya yang dimulai dari uang emas hingga kerajaan dan para saudaranya. Bahkan Sangkuni pun berhasil mempengaruhi Yudhistira untuk mempertaruhkan Drupadi!.
Drupadi
Drupadi dipermalukan oleh Duryudana setelah Yudhistira kalah bermain dadu
Karena kekalahannya dalam bermain dadu, Yudhistira harus kehilangan Drupadi. Duryudana yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu segera mengambil tindakan untuk mempermalukan Drupadi yaitu dengan menelanjanginya di hadapan para tetua, raja, dan penduduk Hastinapura. Mendengar jeritan dan ratapan Drupadi, ibu para Kurawa yaitu Dewi Gandari segera masuk dan menyuruh Duryudana untuk menghentikan permainan dan mengembalikan semua yang telah dirampasnya.
Namun beberapa hari kemudian, Duryudana kembali mengajak Yudhistira untuk bermain dadu, dan hasilnya Yudhistira mengalami kekalahan yang membuat dirinya dan saudaranya yang lain dibuang ke dalam hutan selama 12 tahun.
Para Pandawa yang sedang menjalani masa pembuangan di hutan, dikejutkan oleh ajakan Duryudana yang berniat mengadakan pesta di hutan tersebut. Niatan Duryudana tersebut tentu saja untuk tujuan menghina para Pandawa. Namun yang terjadi mereka malah berselisih dengan kaum Gandharwa pimpinan Citrasena. Akibatnya Duryudana ditangkap oleh Citrasena.
Yudhistira yang mendegar kabar tersebut segera menyuruh Bima dan Arjuna untuk menolong Duryudana. Pada awalnya mereka menolak, terlebih Bima yang memang memiliki dendam kesumat terhadap Duryudana. Namun, setelah Yudhistra berniat bertarung sendirian, akhirnya dengan terpaksa Bima dan Arjuna berangkat dan menolong Duryudana. Duryudana yang tadinya berniat mempermalukan para Pandawa akhirnya malah menjadi malu sendiri.
Peran Yudhistira dalam peperangan Pandawa melawan Kurawa di Bharatayudha sangat besar. Yudhistira memilik strategi yang cukup ampuh saat menghadapi Durna. Dia menggunakan keahliannya memainkan tombak pada waktu bertarung melawan Salya, dan rasa adilnya ketika harus menghadapi Duryudana. Setelah berakhirnya perang Bharatayudha, Yudhistira dinobatkan menjadi Maharaja dunia dengan menjadi raja dari Hastinapura dan Amarta.
Yudhistira wafat
Yudhistira dalam perjalanan terakhirnya menuju gunung Himalaya
Daam perjalanannya menuju puncak Himalaya bersama para Pandawa dan Drupadi Bharatawarsha, Yudhistira meninggal dan ia menjadi orang terakhir yang meninggal dalam perjalanan menuju Himalaya dan masuk ke surga. Lagi-lagi di surga ia harus menerima ujian dan berhasil melewatinya.
2. BHIMASENA ATAU BIMA
Tokoh Pandawa kali ini adalah Bheema atau Bima. Bima merupakan putra kedua dari Pandu dan Dewi Kunti. Dalam kisah disebutkan bahwa Bima merupakan titisan dari Batara Bayu atau dewa angin. Bima yang memiliki tubuh yang gagah dan berotot adalah orang yang paling kuat dari para Pandawa lainnya. Meski memiliki sifat yang kasar dan cepat marah, namun Bima memiliki hati yang sangat lembut. Bima dikenal sebagai salah seorang dari Pandawa yang paling ditakuti oleh musuh.
Bima
Bima dalam pewayangan Indonesia
Dalam bahasa sansekerta Bima berarti “mengerikan”, Bima juga memiliki nama lain yaitu Werkodara, Bayusuta, dan Bhimasena. Senjata Bima adalah kekuatan dan pusakanya yang berupa Gada Rujakpala. Dalam budaya Jawa, Bima dikenal memiliki pusaka Kuku Pancakenaka, Alugara, Bargawa dan Bargawasta.
Kekuatan Bima mulai menonjol ketika dirinya masih berusia anak-anak, ia menyimpan kekuatan yang sangat besar dibanding anak sebayanya. Sebagai anak kecil, Bima juga kerap jahil dan suka mengisengi sepupunya Kurawa. Salah satu orang yang sering menjadi korban kejahilannya adalah Duryudana, dan karena itu pula Duryudana menjadi sangat benci dengan Bima.
Kekuatan semakin bertambah ketika ia dan saudaranya yang lain (Pandawa dan Kurawa) sedang bermain di Sungai Gangga. Para Kurawa memberikan makanan dan minuman yang beracun pada Bima. Bima yang tidak mengetahui ulah para Kurawa segera memakan semua makanan tersebut sehingga pingsan. Oleh Kurawa, ia kemudian diikat dalam sebuah rakit dan dohanyutkan di Sungai Gangga.
BIMA DAN ANTABOGADitengah sungai muncul ular-ular yang segera mematuki tubuh Bima, dan ajaibnya bisa-bisa dari ular tersebut justru menjadi penangkal racun dari makanan yang telah ia makan tadi. Seketika Bima pun tersadar dan langsung membunuh ular-ular itu. Salah satu ular yang berhasil kabur melaporkan kejadian tersebut pada sang raja ular “Antaboga”.
Mendengar laporan tersebut, sang raja ular mengundang Bima dan memberinya dengan minuman yang jika diminum maka orang yang meminumnya akan memiliki kekuatan yang setara dengan sepuluh ekor gajah besar, dan Bima telah meminum hingga tujuh mangkuk!.
Dalam kisah lain disebutkan ketika Bima sampai di kerajaan raksasa Hidimbawana. Bima bertemu dengan seorang putri raksasa yang bernama Hidimbi atau Arimbi. Keduanya kemudian saling jatuh cinta. Namun kakak Arimbi yang bernama Hidimba marah besar mengetahui hal tersebut karena menganggap raksasa tidak pantas bercinta dengan seorang manusia. Hidimba pun mengajak Bima untuk bertarung.
Dalam pertarungan Bima berhasil membunuh Hidimba, dan menikahi Arimbi. Dari hasil percintaanya dengan Arimbi, Bima memiliki seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Nantinya, selain Gatotkaca Bima juga memiliki beberapa anak yaitu Antasena, Antareja, Sutasoma, dan Sarwaga.
Dalam perang besar Bharatayuddha, Bima adalah panglima perang dari Pandawa. Dalam perang tersebut Bima mati-matian bertarung satu lawan satu dengan Duryudana. Dalam pertarungan yang tidak seimbang tersebut karena Duryudana ternyata seorang sakti yang tidak bisa terluka, Bima terus menyerang Duryudana hingga kecapaian.
Bima melawan Duryudana
Pertarungan Bima melawan Duryudana
Bima melawan Duryodana
Pertarungan Bima melawan Duryodana
Dalam kisah lain disebutkan bahwa kesaktian Duryudana didapatkan ketika dirinya masih bayi, ia dimandikan oleh ibunya dengan air suci, namun ketika sedang diguyur oleh air suci itu sebuah daun gugur dan menutupi paha Duryudana, sehingga bagian pahanya tidak terkena air suci. Krisna segera memanggil Arjuna untuk memberi tahu Bima tentang kelemahan Duryudana tersebut. Karena tidak memungkinkan untuk memberitahu Bima dengan kata-kata, Arjuna menunjuk pahanya yang langsung dimengerti oleh Bima dan segera menghantamkan senjatanya pada bagian paha Duryudana yang langsung ambruk seketika.
Kehidupan Bima berakhir dalam perjalannnya menuju gunung Himalaya, ia meninggal secara sempurna dan masuk surga sebagaimana saudaranya yang lain.
3. ARJUNA
Arjuna yang berarti “Jujur dalam wajah dan pikiran” merupakan titisan dari Batara Indra. Selain itu ia juga memiliki nama lain yaitu Kururestha, Parantapa, Wijaya, dan Sawyasachi. Keahliannya adalah memanah dengan senjata andalannya yaitu Panah Pasopati dan Gendiwa. Dalam kisah Mahabharata, ketampanan Arjuna membuatnya memiliki beberapa orang istri yaitu Drupadi, Subadra, Palupi, Manuhara, Supraba, Srikandi, Sulastri, Larasati, Jimambang, Ratri, Dresanala, Wilutama, Antakawulan, Juwitaningrat, Maheswara, Retno Kasimpar, Diyah Sarimaya, Gandawati, dan Citranggada.
Arjuna
Arjuna dalam pewayangan Indonesia
Arjuna adalah putera ketiga dari Pandawa dan merupakan anak terakhir dari Raja Pandu dan Dewi Kunti. Dari kelima orang Pandawa, Arjuna dikenal sebagai sosok yang sangat rupawan. Arjuna juga dikenal memiliki kedekatan dengan Kresna, dan Arjuna juga yang pernah melihat secara langsung perwujudan semesta dari Kresna. Selain itu ia juga merupakan satu-satunya tokoh Pandawa yang mendapat ajaran Bhagawadgita atau dikenal sebagai Nyanyian Dewata.
Arjuna memiliki keprinadian yang mulia, berjiwa ksatria, kuat iman dan gagah berani. Dia adalah seorang pertapa yang teguh. Ketika dia bertapa, tak akan ada yang bisa mengganggunya. Oleh karena hal itu, Kresna sangat menghargai keteguhan Arjuna sehingga Kresna memanggilnya “kawanku”. Satu kelebihan Arjuna yang tak tertandingi adalah hasrat menolongnya. Dia bahkan bersumpah bahwa akan membunuh siapapun yang berani melukai kakaknya, Yudhisthira.
Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ketika para Pandawa sedang berada di Kerajaan Panchala, Arjuna dan Bima mendengar sebuah sayembara yang berhadiah seorang putri raja, yaitu Drupadi. Sayembara tersebut adalah memanah ikan kayu dengan hanya melihat bayangannya saja di langit-langit balairung. Pada awalnya Karna berhasil menyelesaikan sayembara tersebut, namun Drupadi menolaknya. Dan ketika Arjuna berhasil menyelesaikan sayembara itu, Drupadi tidak dapat menolaknya karena terkagum-kagum dengan ketampanan Arjuna, sheingga bersedia diperistri oleh Arjuna.
Mereka kemudian kembali pulang ke Hastinapura dan bermaksud menceritakan hal tersebut pada ibu mereka. Pada saat itu Dewi Kunti sedang memasak ketika para pandawa mengatakan bahwa mereka membawa hadiah, karena tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anak mereka, Dewi Kunti pun menjawab bahwa hadiah tersebut harus dibagi sama rata dengan saudara mereka. Dan atas perintah sang ibu, kelima orang Pandawa itu pun memperistri Drupadi, dan membuat aturan yaitu barangsiapa yang mengganggu kemesraan salah seorag dari mereka ketika sedang bersama istrinya (Drupadi) dalam kamarnya, maka orang itu akan dihukum dengan masa pembuangan selama satu tahun.
Pada suatu hari ketika Yudhistira dan Drupadi sedang bermesraan di dalam kamarnya, tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran Arjuna yang mencari senjatanya di dalam kamar tersebut. Ternyata Arjuna melakukan hal tersebut dengan terpaksa, lantaran untuk membantu seorang pertapa yang melaporkan bahwa pertapaannya diganggu oleh raksasa. Akibatnya Arjuna harus dibuang selama satu tahun.
Selama dalam pembuangan, Arjuna berkeliling Bharatawarsha atau India Kunia, dan dari perjalanannya itu ia menikah dengan Dewi Palupi dari Istana Nagaloka yang berada di sekitar sungai Gangga. Ketika melewati Himalaya, Arjuna juga bertemu seorang wanita bernama Citranggada dari Manipura yang merpakan putri dari Raja Citrasena. Mereka pun akhirnya menikah dengan satu syarat yaitu jika kelak anaknya adalah seorang pria maka anaknya harus tinggal di Manipura untuk meneruskan tahta kerajaan, dan akhirnya Citranggada benar-benar melahirkan seorang putra yang diberinama Babruwahana, dan sesuai kesepakatan, anak mereka harus tinggal di Manipura.
Perjalanan Arjuna pun berlanjut dan kali ini telah sampailah ia di Dwaraka dimana ia merasa tertarik dengan seorang putri yang bernama Subadra, adik dari Kresna dan Baladewa. Arjuna menyamar sebagai seorang pertapa dan tinggal di kediaman Baladewa yang sebenarnya tidak disetujui oleh Kresna.
Suatu hari Arjuna benar-benar menyatakan sukanya pada Subadra, Subadra pun ingin menikah dengan Arjuna di Amarta, sehingga keduanya pun kabur dengan sebuah kereta kuda yang telah disiapkan oleh Kresna. Mendengar hal tersebut, Baladewa pun marah besar. Tetapi Kresna kemudian meyakinkannya bahwa itu adalah keinginan dari adiknya sendiri. Baladewa pun bersedia menerimanya dan menggelar acara pernikahan di Amarta bersama-sama kaum Yadawa. Setelah sempat tinggal selama beberapa bulan, mereka kemudian pulang, sedangkan Kresna tetap tinggal.
Sejak itulah Kresna dan Arjuna menjadi teman dekat. Dikisahkan pada suatu hari ketika mereka tengah berkemah di dekat sungai Yamuna, di tepi hutan Kandawa. Tiba-tiba Dewa Api Agni muncul dan berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya sudah hangus, namun dilindungi oleh Dewa Indra, ayah Arjuna, dengan dalih untuk melindungi Taksaka (teman Dewa Indra) yang tinggal di dalam hutan tersebut. Akhirnya Arjuna dan Kresna bersedia membantu Agni dengan meminta sebuah senjata yang paling kuat agar mampu menghalau gangguan. Agni segera memanggil Baruna (Dewa Lautan) yang lantas memberikan sebuah Gendiwa dan tabung berisi anak panah yang tak akan pernah habis untuk Arjuna. Sedangkan Kresna menerima sebuah senjata pusaka yaitu Cakra Sudarsana. Keduanya pun berhasil membakar hutan Kandawa hingga habis tak bersisa.
Pada saat Yudhistira mengalami kekalahan dalam bermain dadu, para Pandawa akhirnya dibuang ke hutan selama 12 tahun. Masa pembuangan tersebut membuat Arjuna mengambil kesempatan untuk bertapa demi memperoleh kekuatan barunya. Ia bertapa di Gunung Indrakila, dan dalam pertapaannya itu Arjuna sempat digoda oleh tujuh bidadari, namun gagal. Para bidadari itu kemudian kembali ke Kahyangan dan menceritakan hal tersebut pada Dewa Indra.
Dewa Indra kemudian turun menemui Arjuna dalam perwujudan seorang pendeta. Dalam perbincangan antara mereka, Arjuna mengungkapkan kalau tujuan dirinya bertapa adalah ingin menambah kekuatan untuk menghadapi Kurawa. Mendengar hal itu, Dewa Indra memberikan sebuah senjata pusaka. Arjuna pun kembali meneruskan pertapaannya, dan kali ini ia diganggu oleh seekor babi raksasa kiriman Dewa Siwa. Arjuna yang merasa terganggu segera keluar dan memanah babi tersebut, dan pada saat bersamaan Dewa Siwa yang menyamar sebagai pemburu juga memanah babi itu, sehingga klaim-mengklaim siapa yang berhasil membunuh babi itu pun terjadi. Namun ketika Arjuna mencoba memanah Siwa, Dewa Siwa menampakkan wujud aslinya, seketika Arjuna menyesali perbuatannya dan meminta maaf, namun Siwa justru memberinya sebuah pusaka yaitu Busur Pasopati.
Arjuna memanah babi
Arjuna memanah Babi [gambar courtesy wayang.wordpress]
Diceritakan beberapa saat kemudian, Arjuna kemudian dijemput para penghuni Kahyangan untuk menemui Dewa Indra dan menghabiskan waktu beberapa tahun. Di sana ia kemudian bertemu dengan seorang bidadari cantik yang bernama Urwasi. Namun karena menolak ajakan nikah dari Urwasi, Arjuna kemudian dikutuk menjadi banci!. Hal tersebut justru dianggap menguntungkan bagi Arjuna, karena dengan begitu ia bisa menyamar sebagai guru tari di Kerajaan Wirata.
Dalam perang Bharatayuddha, Arjuna selalu dipandu oleh Kresna. Selama peperangan tersebut Arjuna berhasil mengalahkan beberapa ksatria-ksatria hebat dari Kurawa. Dan pada perang hari ke-10, ia harus berhadapan dengan kakeknya Bhisma yang menjadi panglima perang Kurawa. Arjuna sempat mengalami kegalauan karena ia tidak tega jika harus bertarung dengan kakeknya sendiri. Namun dengan saran dan bantuan dari Kresna dan juga Srikandi, Arjuna pun berhasil mengalahkan Bhisma.
Bisma gugur
Bisma Gugur
Pada hari ke-17, Arjuna memulai pertarungan sengit melawan Karna (kakak dari Pandawa), dalam pertarungan tersebut Arjuna hampir terkena panah dari Karna namun berhasil loloh setelah dibantu oleh Kresna. Arjuna berhasil memenangkan pertarungan dengan melesatkan panah Rudra tepat pada kepala Karna saat kereta Karna terjatuh.
Seteah perang usai, Arjuna kemudian mengunjungi Manipura untuk menemui anaknya Babruwahana yang sudah menjadi raja. Namun ia kemudian terbunuh di tangan anaknya sendiri. Diceritakan pula bahwa Arjuna kemudian dibangkitkan kembali oleh istrinya yang juga ibu dari Babruwahana. Seperti saudaranya yang lain, dalam perjalannya ke gunung Himalaya, Arjuna kehilangan semua kekuatan dan senjata-senjatanya. Akhirnya Arjuna meninggal secara sempurna dan masuk surga.
4. NAKULA DAN SADEWA
Nakula dan Sadewa merupakan anak yang terlahir dari istri Pandu yaitu Madri karena bantuan Batara Aswin (Dewa Tabib). Nakula dan Sadewa adalah anak kembar dimana Nakula sebagai saudara yang lebih tua. Nakula memiliki wajah yang tampan dari Sadewa namun Sadewa lebih cerdas dari Nakula. Keduana merupakan anggota termuda dari Pandawa.
Nakula dan Sadewa
Nakula Sadewa dalam pewayangan Indonesia
Disebutkan bahwa Nakula dan Sadewa adalah titisan Dewa Aswin. Nakula memiliki nama asli Pinten, sedangkan Sadewa memiliki nama asli Tansen. Sedangkan nama lain untuk Nakula adalah Grantika, dan nama lain untuk Sadewa adalah Tantripala. Keahlian mereka adalah menggunakan senjata pedang, dan masing-masing memiliki pusakanya sendiri-sendiri. Nakula memiliki pusaka Cupu Tirtamanik, sementara Sadewa memiliki pusaka Maniktira.
Nakula dan Sadewa memiliki kedekatan dengan alam, dan mereka memilik kelebihannya masing-masing, yaitu Nakula yang mahir dalam merawat kuda sedangkan Sadewa lebih mahir merawat Sapi. Seperti juga para Pandawa lainnya, Nakula dan Sadewa dilatih oleh Resi Druna.
Dari keduanya, Nakula yang lebih aktif dan sering bercanda, ia sering mengawasi kenakalan yang dilakukan oleh kakaknya, Bima terhadap pada Kurawa. Selain itu Nakula juga sering menyombongkan ketampanannya.
Sadewa yang meski berusia lebih muda namun memiliki kebijaksanaan yang sangat tinggi. Bahkan kakaknya sendiri, Yudhistira menyebut kalau Sadewa lebih bijak dari guru para dewa “Wrehaspati”. Sadewa memiliki kemampuan meramal peristiwa yang akan terjadi namun ia akan dikutuk (Kepalanya akan belah dua) jika menceritakan hasil ramalannya tentang masa depan. Sadewa lah salah satu anggota Pandawa yang paling disayangi oleh Dewi Kunti.
perjalanan pandawa ke gunung himalaya
Nakula Sadewa dan para saudaranya ketika melakukan perjalanan menuju gunung Himalaya, dalam perjalanan tersebut semua tokoh meningal dengan sempurna (maksa) dan masuk surga
Dikisahkan dalam perjalanan terakhir menuju puncak Himalaya, Sadewa menjadi anggota Pandawa yang pertama meninggal setelah Drupadi. Setelah itu Nakula pun meninggal dunia menyusul saudara kembarnya itu. Namun keduanya berhasil meninggal dalam keadaan sempurna dan diterima di surga.
Itulah beberapa cerita dan kisah kehidupan Pandawa yang terwujud dalam Mahabharata, sebuah perwujudan pertentangan antara kebaikan dengan keburukan, kebenaran dengan kebathilan, dan antara Pandawa dengan Kurawa.
sumber :http://simomot.com/2014/07/04/inilah-sosok-dan-kiprah-pandawa-dalam-kisah-mahabharata/

museum merapi


Museum Gunung Api Merapi (MGM), yang digadang menjadi geo-wisata di DIY diharapkan menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunungapi, gempabumi, dan bencana alam lainnya.
Lokasi MGM terletak di kawasan lereng Merapi, tepatnya di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
Dengan luas bangunan sekitar 4,470 yang berdiri di atas tanah seluas 3,5 hektar, museum yang ke depan juga akan dilengkapi dengan taman, area parkir, dan plasa ini ingin dikenal masyarakat sebagai ‘Museum Gunungapi Merapi, Merapi Jendela Bumi’.
Museum Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya. Museum Gunungapi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan gunungapi serta bencana geologi lainnya.
Informasi yang disampaikan di museum gunungapi diantaranya:
1. Informasi ilmiah kegunungapian, kegempaan dan gerakan tanah yang merupakan proses dinamika geologi, dicerminkan diantaranya dalam informasi model pembentukan, mekanisme terbentuknya maupun proses-proses yang menyertainya.
2. Informasi fenomena gunungapi terbentuk sebagai hasil proses-proses geologi, yang tampil dipermukaan bumi diantaranya berupa bentang alam gunungapi, struktur geologi gunungapi, produk hasil letusan gunungapi, dan produk-produk hasil proses lainnya.
3. Informasi mitigasi bencana gunungapi, gempabumi, tsunami, gerakan tanah yang ditampilkan dalam bentuk informasi sistem monitoring, penelitian dan pengamatan, sistem peringatan dini, dan upaya mitigasi bencana diantaranya menyangkut sistem penyelamatan masyarakat terhadap ancaman bahaya letusan gunungapi, kegempaan dan gerakan tanah.
4. Informasi sumberdaya gunungapi, sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pengembangan infra-struktur dan lainnya.
5. Informasi aspek sosial budaya diantaranya menyangkut kehidupan, budaya/tradisi, mitos dan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberadaan suatu gunungapi.

sumber: http://www.slemankab.go.id/572/museum-gunung-api-merapi.slm
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSmLw8C9igwJylu-lVa1YAyQHwkHaAM1NAzw2OpVDWP7te7R1eq

Kaliurang yogyakarta

kaliurang Yogyakarta
Kaliurang ini bertempat di kaki Gunung Merapi. Kaliurang udaranya sangat sejuk dan mempunyai pemandangan yang sangat indah, sayang jika anda sedang berada di Yogyakarta tapi anda tidak singgah ke Kaliurang. Kaliurang, selain mempunyai pemandangan yang sangat indah, di sana juga terdapat bangunan-bangunan sisi peninggalan sejarah. Salah satunya asalah salah satu wisma yaitu Wisma Kaliurang. Konon katanya wisma tersebut pernah dijadikan sebagai tempat berlangsungnya Komisi Tiga Negara. Selain wisma tersebut ada juga Museum Ulen, meseum ini terletak di bawah tanah. Museum ini juga banyak mengandung misteri kebudayaan dan nilai-nilai sejarah orang Jawa, terutama yang berhubungan dengan Keraton. Wisata kaliurang Yogyakarta saat ini sudah bertambah pesat, sudah banyak wisatawan asing maupun local yang ingin berkunjung ke Kaliurang.
Taman-Wisata-Kaliurang-Yogyakarta
Hal yang menyebabkan Wisata Kaliurang Yogyakarta saat ini bertambah pesat yaitu tempat rekraasi keluarganya. Sekarang di Kaliurang sudah mempunyai tempat rekreasi keluarga. Anda dan kelurga tentu bisa menikmati suasana Kaliurang yang indah dan sejuk ini. Salah satu tempat popular untuk rekreasi bersama keluarga di Kaliurang adalah Taman Rekreasi Kaliurang. Taman Rekreasi Kaliurang terletak 28 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, kawasan ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah sangat cocok untuk anda bersantai dengan keluraga dan akan sangat menyenangkan bila anda ber-rekreasi di tempat ini.
Air-Terjun-Kaliurang
Tapi jangan lupa agar anda selalu mengawasi anak-anak anda yang sedang asik bermain di Taman Rekreasi Kaliurang ini. Taman ini luasnya 10.000 meter persegi, banyak terdapat mainan di taman ini seperti contohnya ayunan, perosotan, kolam renang mini serta masih banyak lagi. Spesialnya di taman ini adalah satu-satunya taman yang di hiasi oleh patung-patung jin yang ada dalam dongeng 1001 malam, sungguh menarik bukan? Selain patung-patung jin ala kisah 1001 malam ada juga patung-patung berbentuk hewan. Tempat ini akan sangat nyaman untuk anda bermain bersama keluarga. Ada juga patung naga yang bisa di masuki oleh anak-anak, anak-anak masuk ke dalam mulut naga dan keluar di bagian ekornya. Sungguh sangat menyenangkan pastinya.
Kawasan-Kaliurang-Yogyakarta
Jika anda bosan bermain di taman wisata kaliurang Yogyakarta juga masih punya tempat yang asik untuk bermain. Anda tinggal maju 300 meter kerah timur dari taman tersebut maka anda akan sampai di suatu taman lagi, nama taman tersebut adalah Taman Wisata Plawangan, di taman ini ada kolam renang besar yang airnya langsung dari mata air di Bukit Lerang Plawangan. Setelah lelah anda bermain di Taman Rekreasi Kaliurang anda bisa langsung berenang di sini. Taman ini juga berada di alam yang terbuka, jadi sambil anda berenang anda juga bisa menikmati pemandangan alam yang masih asri. Anda juga bisa melihat moyet-monyet yang bergelantungan di pohon. Sungguh liburan yang sangat menyenangkan bila anda berkunjung ke Kaliurang Yogyakarta.
Bila anda menginginkan suasana yang hening dan sejuk anda bisa bermalam di Kaliurang. Di kaliurang terdapat villa-villa yang bisa anda sewa untuk anda bermalam di sana. Harganya pun variatif sesuai dengan ukuran villanya saja. Berlibur ke Kaliurang dijamin akan menyenangkan karena Wisata Kaliurang Yogyakarta saat ini sudah berkembang pesat jadi sudah banyak tempat-tempat wisata yang bisa anda kunjungi bersama keluarga, wisata yang di suguhkan di kaliurang adalah wisata pemandangan alam yang akan sangat memukau mata anda.
sumber: http://www.tempatwisataid.com/21/pesona-keindahan-wisata-kaliurang-yogyakarta.html

Selasa, 16 Desember 2014

Asal Usul Miringnya Menara Pisa

Asal Usul Miringnya Menara Pisa

Menara miring Pisa (dalam Bahasa Italia: Torre pendente di Pisa) atau yang biasa disebut The Tower of Pisa (La Torre di Pisa) adalah sebuah menara lonceng dari sebuah katedral di kota Pisa, Italia. Menara ini terletak di belakang katedral dan merupakan struktur ketiga di Campo dei Miracoli (keajaiban) Pisa.

Walaupun rencana semula dibangun secara vertikal, menara itu mulai miring ke arah tenggara segera setelah dilakukan konstruksi di tahun 1173, dikarenakan pondasi yang tak sempurna.

Tinggi dari menara tersebut adalah 55,86 km dari permukaan tanah di sisi terendah, dan 56,70 m di sisi yang tertinggi. Lebar alas bangunan itu adalah 4,09 m dan lebar puncaknya adalah 2,48 m. Berat menara ini diperkirakan 14,500 ton dan memiliki 294 anak tangga.

Konstruksi dari Menara Pisa dibangun dalam tiga tahap, yang memakan waktu sekitar 200 tahun. Konstruksi marmer putih di lantai pertama dimulai pada tanggal 9 Agustus 1173, pada masa kejayaan militer dan kemakmuran Italia. Lantai pertama ini dikelilingi oleh beberapa pilar dan walaupun posisinya miring, namun tetap tahan selama berabad-abad.

Ada kontroversi seputar identitas dari arsitek yang membangun Menara Miring Pisa. Selama bertahun-tahun, desain tersebut diyakini dibuat oleh Guglielmo dan Bonanno Pisano, artis lokal kenamaan di abad ke-12, yang terkenal dengan karya perunggunya, khususnya pada karyanya Pisa Duomo.

Bonanno Pisano meninggalkan Pisa di tahun 1185 dan pindah ke Monreale, Sicilia, namun kemudian kembali lagi dan meninggal di tanah kelahirannya itu. Makamnya ditemukan di dasar tower di tahun 1820.


Menara itu pertama kali miring setelah lantai ketiga dibangun di tahun 1178, dikarenakan amblasnya pondasi sedalam tiga meter, akibat pergerakan tanah. Ini berarti bahwa desain dari menara tersebut telah cacat sejak pada awalnya.

Konstruksi dihentikan sementara selama hampir seabad lamanya, karena para warga Pisa hampir terlibat peperangan dengan Genoa, Lucca dan Florence. Selama masa ‘istirahat’ ini, struktur tanah di bawahnya telah kembali stabil. Dan di tahun 1198, dipasang jam untuk sementara pada bangunan yang masih belum tuntas itu.


Di tahun 1272, bangunan itu dilanjutkan kembali oleh Giovanni di Simone, arsitek dari Camposanto. Lantai keempat dibangun untuk mengimbangi kemiringan dari menara ini. Pembangunan kembali dihentikan di tahun 1284, saat Pisa ditaklukan oleh Genoa dalam Pertempuran Meloria.

Pembangunan menara lonceng ini tak selesai terhenti hingga 1372. Setelah itu, Tommaso di Andrea Pisano berhasil menyelesaikan elemen-elemen Gothic dari menara tersebut, dengan memberikan sentuhan gaya Roma. Terdapat tujuh lonceng pada menara tersebut, yang masing-masing mewakili not pada nada. Lonceng yang terbesar dipasang pada tahun 1655.


Sumber :
jadiberita.com


Jembatan suramadu

 JEMBATAN SURAMADU
Jawa Timur kini telah mempunyai Jembatan Suramadu. Jembatan modern yang bisa menjadi ikon serta landmark yang membanggakan. Jembatan Suramadu adalah jembatan yang menghubungkan Surabaya di Jawa dan kota Bangkalan di Madura. Keberadaan jembatan ini akan memperlancar lalu lintas barang dan jasa. Jembatan sepanjang 5,4 kilometer itu akan menjadi pembangkit perubahan bagi Madura. Bagaimana gagasan pembanganan Jembatan Suramadu bermula, kita perlu menengok sejarahnya.

Di tahun 1960-an, Prof. Dr. Sedyatmo (alm) mengusulkan sebuah ide mengenai hubungan langsung antara pulau Sumatera dan Jawa. Sebuah ide dan teroboson 'berani' di zaman itu. Ide itu ternyata mendapat respon. Sebagai tindak lanjut, tahun 1965 dibuatlah uji coba desain (jembatan Sumatera-Jawa (Jembatan Selat Sunda) yang dibuat di Institut Teknologi Bandung (ITB). Gagasan dan konsep-konsep pengembangan jembatan antar pulau selanjutnya disampaikanlah kepada Presiden RI Soeharto awal Juni 1986.

Bulan Februari 1986, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bertemu dengan delegasi dari perusahaan perdagangan Jepang. Kemungkinan kerjasama proyek-proyek di Indonesia pun dibahas. Gayung pun bersambut. Para delegasi Jepang tersebut menyatakan memberi angin positif untuk kerjasama dalam proyek hubungan langsung Jawa-Sumatera-Bali.

Pemerintah Indonesia juga semakin bersemangat melakukan persiapan. Atas dasar konsep-konsep dari Prof. Sedyatmo, Juni 1986, Presiden Soeharto menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie. Kajian awal kemungkinan hubungan langsung antarpulau Sumatera-Jawa-Bali pun dilakukan.

Proyek ini diberi nama Tri Nusa Bima Sakti. BPPT diberi tugas melakukan studi terkait dengan kondisi alam, sedangkan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) melakukan studi tentang sosio-ekonomi dan implementasi. Di waktu yang sama, delegasi Jepang yang dipimpin Dr. Ibukiyama datang ke Indonesia untuk melakukan kajian awal. (JIF), sebuah forum kerjasama yang dibentuk perusahaan swasta Jepang dan BPPT mengusulkan untuk menyelanggarakan seminar di Jakarta sebagai usaha mempromosikan proyek Trinusa Bima Sakti. Seminar dengan judul "Japan-Indonesia Seminar on Large Scale Bridges and Under Sea Tunnel" dilaksanakan di Jakarta, 21-24 Japan-IndonesiaScience and Technoloy Forum September 1986. Seminar tersebut kemudian dilanjutkan dengan serangkaian studi pendahuluan hingga tahun 1989. Karena studi tersebut mencakup hubungan tiga pulau atau lebih, nama proyek disempurnakan menjadi "Proyek Tr i Nusa Bima S a k t i dan Penyeberangan Utama". Dari kajian-kajian yang dilakukan, yang dianggap layak untuk segera diimplementasikan adalah hubungan langsung Jawa-Madura/ Bali.

Waktu terus bergulir. Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dan BPPT, Desember 1986, secara terpisah menyampaikan proposal terkait proyek Tri Nusa Bima Sakti kepada Bappenas dan Sekretariat Kabinet (Setkab). Di saat yang sama, hasil kajian yang dipimpin oleh Dr. Ibukiyama juga dikirimkan ke Bappenas dan Setkab.


Tujuh bulan kemudian, dalam rapat tahunan JIF yang membahas kerjasama teknik, perwakilan dari Jepang menyetujui mengirimkan dua tenaga ahli, yaitu ahli Geologi dan ahli Vulkanologi. Mereka bertugas membantu BPPT melakukan kajian tentang kondisi alam. Sementara untuk studi sosio-ekonomi dan implementasi, DPU dibantu seorang ahli bidang Perencanaan Transportasi dan Rekayasa Jembatan/ Terowongan. Dalam perjalanan waktu, muncul kendala dalam pengadaan tanaga ahli Geologi untuk jangka panjang. Delegasi Jepang (Kementerian Trasportasi) mengusulkan pemikiran di mana survei geologi dilaksanakan setelah didapat hasil kajian tentang prospek perencanaan transportasi dan perencanaan konstruksi jembatan/ terowongan.

Tindak lanjutnya, Juli 1988, Mr. Furuya Nobuaki, ahli transportasi dan rekayasa jembatan/ terowongan dari Badan Otorita Jembatan Honshu-Shikoku mulai berkantor di DPU. Kemudian bulan Oktober 1988, Mr. Kobayashi, ahli dari Perusahaan Umum Pembangunan Jaringan Kereta Api Jepang menginjakkan kaki di BPPT.

Selanjutnya, Desember 1988, dilakukan kesepakatan antara DPU dan BPPT tentang kajian bagi proyek tersebut. DPU bertanggung jawab melaksanakan studi sosio-ekonomi, termasuk di dalamnya estimasi kebutuhan lalulintas, sambil melakukan kemitraan dengan instansi lain. Sedangkan BPPT bertugas melaksanakan studi pengembangan teknik dan kondisi alam. Dari kesepakatan itu, sebuah komite akan dibentuk agar pelaksanaan studistudi tersebut berjalan efektif.


Perjalanan kemudian sampai di 9 Januari 1989, saat dibentuk untuk Proyek Tri Nusa Bima Sakti dan Penyeberangan Utama yang terdiri dari :


Ketua

Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro
Deputi Adm. BPPT

Ketua I

Ir. Ruslan Diwiryo
Deputi Pengembangan Wilayah Bappenas

Ketua II

Ir. Suryatin Sastroamijoyo
Dirjen Bina Marga, DPU

Pra Studi Kelayakan Jembatan Suramadu


Langkah kemudian pun semakin konkret dengan dilaksanakannya Preliminary study on Pra Studi Kelayakan Jembatan Suramadu Surabaya-Madura Bridging Project oleh JIF dan BPPT atas biaya dari pihak Jepang, Maret-Oktober 1990. Hasilnya diperoleh rekomendasi penting, bahwa dengan kondisi Surabaya sebagai pelabuhan terbesar kedua setelah Jakarta, serta industri ekspor sistem padat karya, maka pengembangan pulau Madura menjadi kunci pokok dalam perluasan kota metropolitan Surabaya. Melihat potensi pengembangan yang tinggi, maka pembangunan Jembatan Suramadu menjadi penting. Rekomendasi ini kemudian menjadi titik penguat untuk melakukan studi teknis dan studi pendukung lainnya. Studi ini berlangsung tahun 1990 hingga 1995. BPPT pun menyiapkan biaya dari anggaran Daftar Isian Proyek (DIP).


Akhirnya, 14 Desember 1990 Proyek Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura dan Pengembangan Kawasan dikukuhkan sebagai proyek nasional melalui penerbitan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990 tentang Proyek Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura yang sekaligus memutuskan untuk membentuk tim yang terdiri dari:

Menhankam, Menkeu, Men. PU, Menperin
Menhub, Menparpostel, Mentamben,
Menneg.PPN/Ketua Bappenas, Menpera,



1. Tim Pengarah


Ketua Tim Pengarah :
Menteri Negara Riset dan Teknologi/ Kepala PPT
Anggota :
Menneg.KLH, Panglima ABRI, KS TNI AL, Ketua BPN, Ketua BKPM, Koordinator Proyek.
Sekertaris tim pengarah
DeputiKetua Bidang Administrasi BPPT.


2. Tim Pengawas


Ketua Tim Pengawas :
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur
Anggota TimPengawas :
Instansi-instansi terkait yang diangkat/ diberhentikan oleh Ketua TimPengawas.


3. Koordinator Proyek

Koordinator Proyek :MohammadNoer, yang dibantu oleh para pembantunya yang diangkat olehKoordinator Proyek Berdasarkan SK Menneg. Ristek/Ka. BPPT No: 283/M/BPPT/VI/91, telah ditunjuk PT Dhipa Madura Pradana (PT DMP) sebagai Pelaksana Proyek Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura dan Pengembangan Wilayah bekerjasama dengan institusi terkait.

Selanjutnya PT DMP membentuk Konsorsium Indonesia yang terdiri dari: PT Jasa Marga, BPIS, PT SIER, dan PT BUKAKA. Selain itu juga dibentuk Konsorsium Jepang yang terdiri dari: Mitshubishi Corp, Itochu, Shimizu, Long Term Credit Bank (LTCB). Rapat pertama tim pengarah yang dilaksanakan Maret 1991, memutuskan pembinaan koordinasi proyek ini dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. Agenda selanjutnya dibuat rencana kegiatan oleh pelaksana proyek. Terkait dengan tinggi bebas dan bentang bersih jembatan (clearance) jembatan, dikoordinasikan dengan Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Departemen Perhubungan.

Di rapat kedua, Maret 1992, tim pengarah meminta agar PT DMP segera menyelesaikan Feasibility Study dan Bankable Proposal. Rapat juga memutuskan agar BPPT membantu DPU dan PT DMP dalam melaksanakan studi teknis jembatan yang meliputi survei, engineering design dan pengujian. Dan di rapat ketiga tim pengarah, Maret 1994, DPU menyatakan kesiapannya untuk mendukung proyek ini dengan menyiapkan PSDPU (Prasarana dan Sarana Dukungan Pekerjaan Umum). Pihak PT DMP kemudian diminta segera menyelesaikan Action Program yang baku beserta studi lingkungan untuk pengembangan kawasan dan studi resettlement. Selain itu BUMNIS/ BUMD juga akan diikutsertakan dalam proyek ini sebagai pemegang saham.

Setelah memasuki rapat keempat, April 1995, Konsorsium Jepang diminta segera mengusahakan pendanaan. Sementara PT DMP diminta segera menyelesaikan pembebasan tanah untuk keperluan kawasan. Pelaksanaan proyek di lapangan selanjutnya dibawah tanggungjawab DPU.

Krisis Moneter Yang Menunda

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997 menunda sejumlah proyek besar, salah satunya Jembatan Suramadu


Namun, malang tak dapat ditolak. Semangat berletup untuk segera mewujudkan proyek besar ini harus redup sesaat. Krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara, juga menerpa Indonesia. Kondisi ekonomi pun menjadi carutmarut. Krisis yang tak mampu ditepis membawa efek domino yang berakibat langsung pada rencana pembangunan jembatan Suramadu. Dengan kondisi ini, dalam sidang kabinet 16 September 1997, pemerintah memutuskan untuk menunda pelaksanaan pembangunan beberapa proyek besar termasuk rencana pembangunan jembatan Suramadu. Penundaan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1997, tanggal 20 September 1997, tentang Penangguhan/ pengkajian kembali proyek pembangunan BUMN dan swasta yang berkaitan dengan Pembangunan/ BUMN.

Penundaan ini dimaksudkan untuk mengamankan kesinambungan perekonomian dan jalannya pembangunan nasional. Proyek Jembatan Surabaya-Madura termasuk dalam daftar proyek yang ditangguhkan. Namun bukan berarti proyek ini berhenti. Dalam Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1998 tentang prioritas program infrastruktur, dinyatakan apabila pembangunan Jembatan Surabaya-Madura akan dilanjutkan, maka kegiatan tersebut harus masuk daftar prioritas infrastruktur yang dikoordinasikan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Sebuah perubahan kemudian terjadi. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Juni 1998, menyatakan pelaksanaan proyek pembangunan jembatan Surabaya-Madura tidak lagi melibatkan PT DMP. Untuk itu perlu dilakukan dievaluasi kembali tentang adanya konsorsium baru, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.



Upaya Provinsi Jawa Timur

Meneruskan Cita-cita Pembangunan

Semangat desentralisasi yang tertuang dalam UU Nomor 22/1999 tentang Otonomi Daerah, tanggal 7 Mei 1999, memberikan kewenangan kepada daerah dalam hal ini Propinsi Jawa Timur untuk berperan dalam Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura. Pada bulan Desember 1999 dilakukan rapat koordinasi antara Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur, PT. Jasa Marga dan Koordinator Proyek di Surabaya: Kesepakatan yang didapat pada pertemuan tersebut adalah:
Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur bermaksud untuk mengambil alih tanggungjawab pelaksanaan proyek Jembatan Suramadu dari Departemen Pekerjaan Umum pada bulan September 2000. PT. Jasa Marga akan bertindak sebagai fasilitator dalam melakukan evaluasi biaya investasi dan penyelenggaraan jalan tol untuk Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur.

Untuk itu PT. Jasa Marga akan membantu mengevaluasi aspek investasi dengan skema Special Yen Credit, Soft Loan atau Modifikasi Investasi. Sesuai dengan semangat reformasi masyarakat Madura menginginkan dilaksanakannya redesign terhadap jembatan Suramadu. Engineering Design Jembatan beserta hasil pengujian dan studi pendukung lainnya yang telah ada, akan diminta dari BPPT dan Departemen Pekerjaan Umum untuk memudahkan dalam kegiatan Kaji Ulang Studi Kelayakan (Review Feasibility Study) dan redesign jembatan.


Melalui Surat Gubernur Jatim Nomor:602/1746/201/2001, tanggal 11 Oktober 2001 dan Nomor: 602/2332/201.3/2001, tanggal 26 November 2001, Pemerintah Jawa Timur mengajukan Permohonan Inisiasi Pelaksanaan Pembangunan Jembatan Suramadu dan Pencabutan Keputusan Presiden RI nomor 55 Tahun 1990.

Selain itu, 14 Januari 2002 dilakukan sosialisasi pembangunan jembatan Suramadu oleh Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo di depan alim ulama dan tokoh masyarakat Madura di Pamekasan. Rencana melanjutkan kembali pembangunan Jembatan Suramadu ini direspon dan sambutan yang sangat baik dari masyarakat Madura. Mereka juga mengharap kesungguhan pemerintah pusat dalam rencana pembangunan Jembatan Suramadu. Selain itu Bupati / DPRD diharapkan mengantisipasi selesainya pembangunan jembatan ini dengan tata ruang, perencanaan ekonomi, serta rencana induk pembangunan Pulau Madura dengan tepat. Langkah pemerintah provinsi ini dijawab oleh Pemerintah Pusat melalui Surat Menteri Negara Ristek/ Kepala BPPT kepada Presiden RI, No: 07/M/I/2002, tanggal 23 Januari 2002, perihal Inisiasi Pelaksanaan Pembangunan Jembatan Suramadu, yang menyatakan dukungan penuh atas langkah nyata yang diambil oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur.


Melalui surat tersebut juga dinyatakan perlunya diterbitkan Keputusan Presiden baru untuk menyatakan bahwa proyek Jembatan Suramadu adalah termasuk proyek prioritas dan sekaligus mencabut Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990.


Titian Perjalanan Baru

Kepres 79 / 2003 merupakan titian awal dimulainya kembali pembangunan Jembatan Suramadu


Seiring membaiknya situasi perekonomian, maka keluarlah Keputusan Presiden Nomor 79 tanggal 27 Oktober 2003 tentang pembangunan Jembatan Surabaya-Madura yang menyatakan bahwa pembangunan Jembatan Suramadu dapat dilanjutkannya kembali.

Dalam Keputusan Presiden tersebut juga dinyatakan pembangunan Jembatan Suramadu dilaksanakan sebagai bagian dari pembangunan kawasan industri, perumahan dan sektor lainnya dalam wilayah kedua sisi ujung jembatan. Pelaksanaan pembangunan Jembatan Suramadu juga harus memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Jawa Timur dan Rencana Tata Ruang Kawasan (RTRK) Gersik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan (Gerbang Kertosusila) serta Pamekasan, Sampang dan Sumenep. Dengan Jembatan Suramadu, yang akan menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura melalui jalan darat, diharapkan ketimpangan sosial dapat segera direduksi. Arus transportasi yang cepat dan efektif akan membuat perkembangan Madura segera melejit, bersaing dengan daerah-daerah lain.

Tata wilayah dan tata guna lahan juga akan terbentuk secara proporsional. Proyek ini kelak diharapkan dapat mengukir sejarah baru dalam perkembangan transportasi di Indonesia karena untuk pertama kalinya dibangun jembatan yang menghubungkan antar dua pulau, sekaligus menjadi jembatan terpanjang di Indonesia.



sumber :
http://kangdon.blogspot.com/2009/06/sejarah-awal-pembangunan-suramadu.html

  

Senin, 15 Desember 2014

air terjun coban rondo

air terjun coban rondo 



Coban Rondo  memiliki ketinggian sekitar 84 m dan berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut.  Airnya berasal dari sumber di Cemoro Dudo, lereng Gunung Kawi dengan debit 150 liter per detik pada musim hujan dan 90 liter per detik di musim kemarau.  Curah hujan rata-rata 1.721 mm/th, dengan bulan basah pada bulan Nopember sampai bulan Maret dan bulan kering pada bulan April sampai dengan Oktober dengan suhu rata-rata +/- 22°C.

Air terjun ini berada dalam wilayah KPH Perum Perhutani MalanBagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pujon dan Resort Polisi Hutan Pujon Selatan Petak 89G.
Sebelum menjadi Coban Rondo, sebetulnya di atasnya ada air terjun kembar yang disebut Coban Manten. Mengalir ke bawah, air terjun itu menyatu menjadi Coban Dudo. Uniknya, Coban Dudo tersebut mengalir ke bawah menjadi Coban Rondo.
Sumber air dari tiga air terjun tersebut berada di Kepundan, satu dataran yang tanpa pohon satu pun berada di atas Coban Manten. Mereka yang ingin melihatnya, selain harus berhati-hati juga perlu ekstratenaga. Sebab, selain jalan licin, juga cukup jauh antara 3-4 km.
Legenda
Air Terjun Coban Rondo menyimpan legenda unik, bermula dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mereka menginjak usia 36 hari atau disebut dengan Selapan (bahasa jawa). Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro, yang merupakan asal dari suami. Namun orang tua Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena usia pernikahan mereka baru berusia 36 hari atau disebut selapan. Namun kedua mempelai tersebut bersikeras pergi dengan resiko apapun yang terjadi di perjalanan. 
Ketika di tengah perjalanan keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang tidak jelas asal-usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya atau disebut juga puno kawan yang menyertai kedua mempelai tersebut, Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat di Coban atau air terjun. Perkelahian antara Raden Baron Kusumo dengan Joko Lelono berlangsung seru dan mereka berdua gugur. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa jawa disebut Rondo.  Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan Coban Rondo.  Konon di bawah air terjun terdapat gua tempat tinggal tempat persembunyian Dewi Anjarwati dan batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya.
http://www.eastjava.com/tourism/malang/cobanrondo.html
http://www.budpar.go.id/page.php?ic=55&id=1130



Sumber :

Kamis, 11 Desember 2014

Taj Mahal


iBerita.com – Taj Mahal adalah bangunan indah yang berbalut pualam putih dan sangat indah. Namun ternyata dibalik keindahannya yang memesona itu, tersimpan sebuah cerita tentang patah hatinya seorang raja yang ditinggal istri kesayangannya. Itulah kisah kehilangan raja Shah Jahan atas meninggalnya sang istri tercinta, Mumtaz Mahal ketika melahirkan puteranya.
Bangunan kuburan mewah yang dibangun di kota Agra ini mengikuti gaya arsitektur Moghul. Pembangunan ini berhasil diselesaikan pada tahun 1647 M. Bangunan ini menjadi saksi sejarah saat India diserbu oleh kelompok Jat, dijajah oleh colonial Inggris, dan pemberontakan India tahun 1875 M. Bangunan ini pernah direstorasi dan dipasangi pelindung agar aman dari serangan bom selama Perang Dunia II.
Tak hanya kisah cinta mendalam dan patah hati yang berkepanjangan yang bisa tersingkap dari bangunan itu. Tetapi itu sekaligus menjadi bangunan prestisius yang menunjukkan ambisi besar seorang Shah Jahan. Hal itu dapat dilihat dari kisah sejarah setelah masa pembangunan selesai, dirinya digulingkan dan dipenjarakam oleh putranya sendiri. Meskipun demikian, akhirnya sang anak menguburkan sang ayah di samping ibundanya, Mumtaz Mahal.
 sumber:          http://www.iberita.com/34501/taj-mahal-karya-besar-di-balik-kisah-cinta-dan-penindasan